Rabu, 06 Agustus 2008

Upacara Selama Setahun Di Desa Bugbug Telan Dana Mencapai 2 M




BUGBUG-Media Karangasem
Rangkaian upacara adat terpanjang di Bali yang digelar Desa Adat Bugbug, Karangasem yakni berupa Karya Tawur Agung Tabuh Gentuh, Ngeteg Linggih, Mepedudusan Agung, Labuh Gentuh lan Usaba Kaja di Desa Pakraman Bugbug Karangasem,diperkirakan bakal menelan dana mencapai Rp 2 Milyar , Hal tersebut diutarakan Ketua Panitia Upacara , I Wayan Terang Pawaka,MAg disela-sela mengikuti rangkaian perjalanan Karya , yakni Mendak Bagia Pulekerti lan Penyegjeg Jagat dari Pura Dalem ke Pura Bale Agung, yang dilanjutkan dengan upacara Mepepada, beberapa waktu lalu.
Dijelaskan Terang Pawaka, rangakaian karya terhitung sejak mempersiapkan tidak kurang dari setahun sementara rangkaian-rangkaian penting berlangsung selama 8 bulan .
" Seluruh rangkaian upacara yang telah dimulai sejak beberapa bulan lalu akan diakhiri setelah dilaksanakan Usaba Kaja pada Bulan Agustus 2008.mendatang" Terangnya.
Sementara rangkaian Upacara Mendak Bagia Pulekerti yang sudah berlangsung dipuput oleh Ida Pedanda Gede Jelantik Karang dari Geria Karang Budakeling, Bebandem, sedangkan untuk upacara Mepepada dipuput oleh Ida Pedanda Istri Mas dari Geria Dauh Budakeling.
Yang cukup menarik dalam pelaksanaan ritual itu penggunaan sarana kurban hewan sebagai pelengkap pecaruan tergolong langka diantaranya Menjangan, Kijang, Petu, Kebo, Sapi, Angsa, Kambing, Asu(Anjing) Bang Bungkem, Kekua, Lubak dan Ayam berbagai Warna Bulu.
Hewan-hewan kuban itu setelah diupacarai kemudian disembelih dan diolah untuk dibuat sesaji yang dihaturkan dalam upacara memben .Dimana pada saat pelaksanaan upacara itu dipuput(Dipimpin) oleh Ida Pedanda Gede Jelantik dari Geria Jelantik Budakeling dan Ida Pedanda Gede Buruan dari Geria Sibetan. (Karta)

Tempat Wisata Di Desa Bugbug - Candi Dasa


Ditulis oleh pande aditya di/pada Agustus 4, 2008

Sejarah:
Dahulu, Candidasa dikenal sebagai Teluk Kehen. Namun, sejak daerah ini dibuka menjadi objek wisata, nama Candidasa pun mulai digunakan.
Tidak ada catatan/laporan pasti tentang latar belakang nama Candidasa. Namun, dianggap pemilihan nama ini berhubungan dengan cerita “lingga” di bagian dalam candi yang terletak pada perbukitan Candidasa.
Naskah kuno menyebutkan bahwa Pura Candidasa dibangun pada abad ke-12. Ada “lingga” yang terdapat di dalam candi yang dipercaya sebagai symbol Dewa Siwa. Di tempat suci ini konon bisa mendapatkan penghargaan tertinggi atau “sorga” dengan uttering sepuluh huruf yang disebut “Dasa Aksara” (Dasa artinya sepuluh).
Cerita lain mengatakan bahwa nama Candidasa diinspirasi oleh sebuah patung dekat lingga. Patung itu adalah patung Dewi Hariti yang dikelilingi oleh 10 anak. Dipercaya bahwa Dewi Hariti memberikan berkah berupa kemakmuran dan kesejahteraan kepada mereka yang bersembahyang disana.

Lokasi:
Candidasa terletak di desa Samuh-Bugbug, Kecamatan Karangasem. Sekitar 65 km dari Denpasar dan 12 km dari Amlapura.

Fasilitas:
Fasilitas yang tersedia disini antara lain: restoran, hotel-hotel kecil, hotel berbintang, dan fasilitas lain yang diperlukan untuk mendukung industri pariwisata.

Deskripsi:
Candidasa dikenal karena pasir putihnya. Industri pariwisata bermunculan dengan latar belakang Samudra Hindia. Dari tempat ini kita bisa melihat Pulau Lombok dan Nusa Penida dan cahaya “jukung” yakni perahu tradisional yang bersinar akan selalu membawa Anda untuk datang lagi.

Sejarah Letusan Gunung Agung

SEJARAH LETUSAN


Letusan G. Agung yang diketahui sebanyak 4 kali sejak tahun 1800, seperti diperlihatkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Catatan Letusan G. Agung

Tahun letusan

Kegiatan

1808

Dalam tahun ini dilontarkan abu dan batu apung dengan jumlah luar biasa

1821

Terjadi letusan normal, selanjutnya tidak ada keterangan

1843

Letusan didahului oleh gempa bumi. Material yang dimuntahkan yaitu abu, pasir, dan batu apung. Selanjutnya dalam tahun 1908, 1915, dan 1917 di berbagai tempat di dasar kawah dan pematangnya tampak tembusan fumarola.

1963

Letusan dimulai tangga 18 Pebruari 1963 dan berakhir pada tanggal 27 Januari 1964. Letusan bersifat magnatis. Korban tercatat 1.148 orang meninggal dan 296 orang luka.

Karakter Letusan

Pola dan sebaran hasil letusan lampau sebelum tahun 1808, 1821, 1843, dan 1963 menunjukkan tipe letusan yang hampir sama, diantaranya adalah bersifat eksplosif (letusan, dengan melontarkan batuan pijar, pecahan lava, hujan piroklastik dan abu), dan efusif berupa aliran awan panas, dan aliran lava (Sutukno B., 1996).

Periode Letusan

Dari 4 kejadian letusan masa lampau, periode istirahat G. Agung dapat diketahui yakni terpendek 16 tahun dan terpanjang 120 tahun, seperti terlihat pada tabel di bawah.

Periode istirahat G. Agung

Tahun Letusan

Periode Istirahat (tahun)

1805

1821

16

1843

22

1963

120

Letusan 1963

Kronologi Letusan tahun 1963

Lama letusan G. Agung tahun 1963 berlangsung hampir 1 tahun, yaitu dari pertengahan Pebruari 1963 sampai dengan 26 Januari 1964, dengan kronologinya seperti diperlihatkan pada Tabel 5.

Tabel 5. Kronologi letusan tahun 1963

Waktu

Kegiatan

16 Pebruari 1963

Terasa gempa bumi ringan oleh penghuni beberapa Kampung Yekhori (lk. 928 m dari muka laut) di lereng selatan, kira-kira 6 km dari puncak G. Agung.

17 Pebruari 1963

Terasa gempa bumi di Kampung Kubu di pantai timur laut kaki gunung pada jarak lk. 11 km dari lubang kepundannya

18 Pebruari 1963

Kira-kira pukul 23.00 di pantai utara terdengar suara gemuruh dalam tanah

19 Pebruari 1963

Pukul 01.00 terlihat gumpalan asap dan bau gas belerang

Pukul 03.00 terlihat awan yang menghembus dari kepundan,makin hebat bergumpal-gumpal dan dua jam kemudian mulai terdengar dentuman yang nyaring untuk pertama kalinya. Suara yang lama bergema ini kemudian disusul oleh semburan batu sebesar kepalan tangan dan diakhiri oleh sembuaran asap berwarna kelabu kehitam-hitaman .

Sebuah bom dari jauh tampak sebesar buah kelapa terpisah dari yang lainnya dan dilontarkan lewat puncak ke arah Besakih.

Penghuni Desa Sebudi dan Nangka di lereng selatan mulai mengungsi, terutama tidak tahan hawa sekitarnya yang mulai panas dan berbau belerang itu.

Di sekitar Lebih, udara diliputi kabut, sedangabu mulai turun. Air di sungai mulai turun. Air di sungai telah berwarna coklat dan kental membawa batu dengan suara gemuruh, tanda lahar hujan permulaan. Penghuninya tetap tenang dan melakukan persembahyangan.

Pukul 10.00 terdengar lagi suara letusan dan asap makin tebal. Pandangan ke arah gunung terhalang kabut, sedang hujan lumpur mulai turun di sekitar lerengnya.

Di malam hari terlihat gerakan api pada mulut kawah, sedangkan kilat sambung-menyambung di atas puncaknya.

20 Pebruari 1963

Gunung tetap menunjukkan gerakan berapi

06.30 terdengar suara letusan & terlihat lemparan bom lebih besar.

07.30 penduduk Kubu mulai panik, banyak diantara mereka mengungsi ke Tianyar, sedangkan penghuni dari lereng selatan pindah ke Bebandem dan Selat.

21 Pebruari 1963

Asap masih tetap tebal mengepul dari kawah.

Pukul 12.30 tampak leleran lava ke arah Blong di utara

22 Pebruari 1963

Kegiatan terus menerus berupa letusan asap serta loncatan api dan suara gemuruh.

23 Pebruari 1963

Pukul 08.30 sekitar Besakih, Rendang dan Selat dihujani batu kecil serta tajam, pasir serta abu.

24 Pebruari 1963

Hujan lumpur lebat turun di Besakih mengakibatkan beberapa bangunan Eka Dasa Rudra roboh. Penduduk Temukus mengungsi ke Besakih. Awan panas letusan turun lewat Tukad Daya hingga di Blong.

25 Pebruari 1963

Pukul 15.15 awan panas turun di sebelah timurlaut lewat Tukad Barak dan Daya. Lahar hujan di T. Daya menyebabkan hubungan antara Kubu dan Tianyar terputus. Desa Bantas-Siligading dilanda awan panas mengakibatkan 10 orang korban. Lahar hujan melanda 9 buah rumah di Desa Ban , korban 8 orang.

26 Pebruari 1963

Lava di utara tetap meleler. Lahar hujan mengalir hingga di Desa Sogra, Sangkan Kuasa. Asap tampak meningkat dan penduduk Desa Sogra, sangkan Kuasa, Badegdukuh dan Badegtengah mengungsi ke selatan.

Di Lebih hujan yang agak kental dan gatal turun. Lahar terjadi di sekitar Sidemen. Juga lahar mengalir di utara di T. Daya dan T. Barak. Pukul 18.15 hujan pasir di Besakih. Pangi diliputi hawa belerang yang tajam sekali.Penduduknya mengungsi ke Babandem. Kemudian kegiatan G. Agung ini terus menerus berlangsung, boleh dikatakan setiap hari hujan abu turun, sementara sungai mengalirkan lahar dan lava terus meleler ke utara.

17 Maret 1963

Merupakan puncak kegiatan. Tinggi awan letusan mencapai klimaksnya pada pk. 05.32. Pada saat itu tampak awan letusannya menurut pengamatan dari Rendang sudah melewati Zenith dan keadaan ini berlangsung hingga pukul 13.00. Awan panas turun dan masuk ke T. Yehsah, T. Langon, T. Barak dan T. Janga di selatan. Di utara gunung sejak pukul 01.00 suara letusan terdengar rata-rata setiap lima detik sekali. Awan panas turun bergumpal-gumpal menuju T. Sakti, T. Daya dan sungai lainnya di sebelah utara. Mulai pukul 07.40 lahar hujan terjadi mengepulkan asap putih, dan ini berlangsung hingga pukul 08.10.

Pukul 08.00 turun hujan abu, pada pukul 09.20 turun hujan kerikil, dan sementara itu awan panas pun turun bergelombang.

Pada pukul 11.00 hujan abu makin deras hingga penglihatan sama sekali terhalang.

Pada pukul 12.00 lahar yang berasap putih itu mulai meluap dari tepi T. Daya. Baru pukul 12.45 hujan abu reda dan kemudian pukul 15.30 suara letusan pun berkurang untuk selanjutnya hilang sama sekali.

Adapun sungai yang kemasukan awan panas selama puncak kegiatan ini adalah sebanyak lk. 13 buah di lereng selatan dan 7 buah di lereng utara. Jarak terjauh yang dicapainya adalah lk.14 km, ialah di T. daya di utara. Sebelah barat dan timur gunung bebas awan panas.

Lamanya berlangsung paroksisma pertama ini yakni selama lk. 10 jam yakni dari pukul 05.00 hingga pukul 15.00.

21 Maret 1963

Kota Subagan, Karangasem terlanda lahar hujan hingga jatuh korban lk. 140 orang. Setelah letusan dahsyat pada tanggal 17 Maret ini,amka aktivitasnya berkurang, sedang suara gemuruh yang tadinya terus menerus terdengar hilang lenyap. Demikian leleran lava ke utara berhenti pada garis ketinggian 501,64 m dan mencapai jarak lk. 7.290 m dari puncak.

16 Mei 1963

Paroksisma kedua diawali oleh letusan pendahuluan, mula-mula lemah dan lambat laun bertambah kuat. Pada sore hari 16 Mei, kegiatan meningkat lagi terus meneru, hingga mencapai puncaknya pada pukul 17.07. Pada umumnya kekuatan letusan memuncak untuk kedua kali ini tidak sehebat yang pertama. Awan letusannya mencapai tinggi lk. 10.000 m di atas puncak, sedang pada pukul 17.15 hujan lapili mulai turun hingga pukul 21.13. Sungai yang kemasukan awan panas adalah sebanyak 8 buah, 6 di selatan dan 2 di utara. Jarak paling jauh yang dicapai lk. 12 km yakni di Tukad Luah, kaki selatan. Lamanya berlangsung paroksisma lk. 6 jam, yakni dari pukul 16 hingga sekitar pukul 21.00. Pada umumnya kekuatan letusan memuncak untuk kedua kali ini tidak sehebat yang pertama. Awan letusannya mencapai tinggi lk. 10.000 m di atas puncak, sedang pada pukul 17.15 hujan lapili mulai turun hingga pukul 21.13. Sungai yang kemasukan awan panas adalah sebanyak 8 buah, 6 di selatan dan 2 di utara. Jarak paling jauh yang dicapai lk. 12 km yakni di Tukad Luah, kaki selatan. Lamanya berlangsung paroksisma lk. 6 jam, yakni dari pukul 16 hingga sekitar pukul 21.00.

Nopember 1963

Tinggi asap solfatara/fumarola mencapai lk. 500 m di ats puncak. Sejak Nopember warna asap letusan adalah putih.

10 Januari 1964

Tinggi hembusan asap mencapai 1500 m di atas puncak

26 Januari 1964

Pk. 06.50 tampak kepulan asap dari puncak G. Agung berwarna kelabu dan kemudian pada pukul 07.02, 07.05 dan 07.07 tampak lagi letusan berasap hitam tebal serupa kol kembang, susul menyusul dari tiga buah lubang, mula-mula dari sebelah barat lalu sebelah timur mencapai ketinggian maksimal lk. 4.000 m di atas puncak. Seluruh pinggir kawah tampak ditutupi olaeh awan tersebut. Suara lemah tetapi terang terdengar pula.

27 Januari 1964

Kegiatan G. Agung berhenti

Foto 3. Letusan. G. Agung 12 Maret 1963 dilihat dari Karangasem ( K. Kusumadinata, 1963)

Produk Letusan 1963

Lahar Hujan

Sesuai dengan letak geografi dari G. Agung yang bertindak sebagai penangkap hujan angin tenggara yang menghembus, lahar besar dimulai di lereng utara, kemudian di lereng timur menenggara untuk kemudian lambat laun bergeser ke jurusan barat dan mencapai klimaksnya di lereng selatan baratdaya. Lahar besar ke selatan mulai meluas pada ketinggian 500 m antara Rendang dan padangkerta. Kemudian di bawah T. jangga, yakni di T. Krekuk dan Jasi, Bugbug dan akhirnya di T. Unda. Mengingat daerah utara terletak dalam bayangan hujan, laharnya bukan bayangan daripada endapan lepas, yang sebenarnya maksimal jatuh di sebelah sini.

Aliran Lava

Lava yang meleler antara 19 Pebruari dan 17 Maret 1963 mengalir dari kawah utama di puncak ke utara, lewat tepi kawah yang paling rendah, berhenti pada garis ketinggian 505,64 m dan mencapai jarak lk. 7.290 m. Isi lava tersebut ditaksir sebanyak lk. 339,235 juta m3.

Bahan Lepas

Terdiri dari bom gunungapi, lapili, pasir dan abu, baik berasal dari awan panas letusan maupun dari ledakan kawah pusat. Jumlah seluruhnya selama roda kegiatan berlangsung :

Eflata (bom, pasir dan abu) lk. 380,5 . 106 m3

ladu lk. 110,3 . 106 m3

Jumlah lk. 490,8 . 106 m3

Awan Panas G. Agung

Di G. Agung terdapat dua macam awan panas, yakni awan panas letusan dan awan panas guguran. Awan panas letusan terjadi pada waktu ada letusan besar. Pada waktu itu maka bagian bawah dari tiang letusan yang jenuh dengan bahan gunungapi melampaui tepi kawah dan meluncur ke bawah. Bergeraknya melalui bagian yang rendah di tepi kawah, ialah lurah dan selanjutnya mengikuti sungai. Kecepatan dari awan letusan ini menurut pengamatan dari Pos Rendang adalah rata-rata 60 km per jam dan di sebelah selatan mencapai jarak paling jauh 13 km, yakni di T. Luah dan di sebelah utara 14 km di T. Daya.

Menurut Suryo (1964) selanjutnya, awan panas guguran adalah awan panas yang sering meluncur dari bawah puncak (tepi kawah). walaupun tidak ada letusan dapat terjadi awan panas guguran. Dapat pula terjadi apabila terjadi bagian dari aliran lava yang masih panas gugur, seperti terjadi pada waktu lava meleler di lereng utara.

Daerah yang terserang awan panas letusan pada kegiatan 1963 terbatas pada lereng selatan dan utara saja, karena baik di barat maupun di sebelah timur kawah ada sebuah punggung.Kedua punggung ini memanjang dari barat ke timur. Awan panas letusan yang melampaui tepi kawah bagian timur dipecah oleh punggung menjadi dua jurusan ialah timur laut dan tenggara. Demikian awan panas di sebelah barat dipecah oleh punggung barat ke jurusan baratdaya dan utara. Awan panas letusan yang terjadi selama kegiatan 1963 telah melanda tanah seluas lk.70km2 dan menyebabkan jatuh 863 korban manusia.

Korban Kegiatan G.Agung

Menurut Suryo (1965,p.22-26) ada 3 sebab gejala yang menyebabkan jatuh korban selama kegiatan G. Agung dalam 1963, yakni akibat awan panas, piroklastika dan lahar. Data korban manusia diperlihatkan pada Tabel 6.:

Tabel 6. Jumlah korban manusia

Jumlah korban (orang)

meninggal

luka

Awan panas

820

59

Piroklastika

163

201

Lahar

165

36

Jumlah

1.148

296

Kerugian lain

Kerugain lain akibat letusan G. Agung tahun 1963 dirinci seperti terlihat pada Tabel 7 dibawah ini:

Kerugian lain akibat letusan G. Agung tahun 1963

Penyebab

Jenis korban

Awan panas

Lahar

Eflata

54 buah klasiran dan banjar telah menderita kerusakan.

45 kampung terlanda, diantaranya 12 buah musnah, sisanya rusak sebagian

1.963 bush rumah dan gubug terlanda.

75 ha sawah dan 2.201,63 ha ladang terlanda

1.167 ekor ternak dan 10.918 ekor unggas

2.567 ekor ternak

1.382 ekor unggas

21 kampung, 5 diantaranya musnah

4.172 rumah

1359.685 ha sawah dan 870 ha lading

150 ekor ternak

2.617 ekor unggas

1.564 rumah tertimbun, terbakar dan rusak

53.983.00 ha ladang tertimbun

11.745.00 ha hutan rusak

Kehebatan dan Energi

Kusumadinata (1964) telah menghitung energi dan kehebatan letusan G. Agung tahun 1963 dengan hasil sebgaia berikut:

Kehebatan

Volume bahan letusan

Berat jenis

Energi Kalor yang dilepaskan

Kesetaraan bom atom

Kebesaran letusan

: IV (H.Suya, 1955)

: 0,83 km3 (V)

: 2,3 (d)

: 2,189.1025 erg (Eth)

: 2605,9 (Ae)

: 8,99

Sejarah - Pura Gumang di Bukit Juru Karangasem

Varsikamscaturo nasanyatha
Indrobhipravarsati, tathabhi-
Varsetsmam rastra, kamair
Indra vratam caran.
(Manawa Dhramasastra, IX, 304)

Maksudnya:
Laksana Dewa Indra menurunkan hujan yang berlimpah selama empat bulan setiap tahun, demikianlah raja menempati kedudukan bagaikan Dewa Indra dengan menghujankan kemakmuran bagi rakyatnya.

KEBERADAAN Pura Gumang di Bukit Juru, Desa Bugbug, Karangasem ada hubungannya dengan adanya mata air yang mengaliri sawah ladang di sekitar Desa Bugbug. Keterangan tertulis yang bernilai sejarah tentang Pura Gumang di Bukit Juru ini memang sampai saat ini masih belum ditemukan. Keterangan tentang pura tersebut hanya didapat dari keterangan orang tua seperti pemangku yang menjadi jan bangul di Pura Gumang dan juga dari tokoh-tokoh masyarakat yang menaruh perhatian tentang agama dan adat Hindu. Cerita itu didapatkan secara turun-temurun.

Menurut cerita rakyat yang dicatat oleh Tim Penelitian Sejarah Pura IHD (kini Unhi) diceritakan sbb: Dahulu kala ada seorang dari Jawa bernama I Dewa Gede datang ke Bali. Saat I Dewa Gede datang ke Bali, masyarakat Bali tidak begitu hirau. Setelah beberapa lama I Dewa Gede berputar-putar di Bali akhirnya menemukan tempat yang sangat menenangkan hatinya. Tempat itu adalah Bukit Juru yang juga bernama Bukit Gumang.

Di tempat itu I Dewa Gede melakukan olah tapa sambil bertani bersama-sama masyarakat setempat. Di daerah Bukit Juru tersebut pertanian mengandalkan air tadah hujan. Upaya menghijaukan Bukit Juru tidak pernah berhenti dilakukan oleh I Dewa Gede. Di samping itu I Dewa Gede dalam melakukan oleh tapa itu senantiasa memohon kepada Hyang Widhi Wasa agar muncul mata air dan sungai untuk kesuburan pertanian masyarakat di sekitarnya.

Upaya melakukan penghijauan dengan air tadah hujan dan melakukan tapa brata itu akhirnya suatu saat muncullah mata air di Pura Gumang di Bukit Juru sekarang ini. Keberhasilan usaha I Dewa Gede bersama masyarakat petani secara sekala dan niskala ini menyebabkan I Dewa Gede dicintai oleh rakyat. Hal itu berhasil karena waranugraha Hyang Widhi Wasa. Karena adanya waranugraha itulah akhirnya Pura Gumang didirikan di mata air tersebut.

Kata Gumang konon berasal dari paiguman yang artinya musyawarah. Karena setelah I Dewa Gede berhasil menghijaukan Bukit Juru itu dengan upaya sekala dan niskala akhirnya rakyat mengadakan rapat atau dalam bahasa Bali igum untuk mengadakan upacara di Pura Gumang dan memberikan hadiah sapi kepada I Dewa Gede. Saat itu I Dewa Gede diberikan tambahan nama menjadi I Dewa Gede Gumang. Konon sapi-sapi persembahan rakyat itu baru habis setelah pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Sapi-sapi itu habis ditembaki oleh orang-orang Belanda dan Jepang yang suka berburu di Bukit Juru itu.

Ada juga versi lain tentang keberadaan Pura Gumang Bukit Juru ini. Menurut Jero Mangku Nengah Silur, zaman dahulu kala para dewa turun dari Gunung Mahameru di India ke Jawa dan Bali. Di Bali para dewa ke Pulaki, Silayukti, Candidasa. Di Candidasa ini para dewa menemukan air. Air itu atas kehendak para dewa terus menjadi telaga dengan tamannya.

Para dewa ingin bermeditasi dengan dapat melihat Gunung Agung dengan Pura Besakih-nya secara lurus. Ternyata dari Candidasa para dewa tidak dapat melihat Gunung Agung dengan jelas dan lurus. Terus pindah ke Gunung Gundul, ke Bukit Pejenengan.

Ternyata sama juga Gunung Agung tidak bisa dilihat secara baik. Dari dua tempat itu akhirnya berpindah ke Bukit Juru yang berbahadan tiga. Dari Bukit Juru inilah para dewa baru melihat Gunung Agung dengan lurus. Di Bukit Juru inilah para dewa melakukan musyawarah atau dalam bahasa Bali mapaiguman melakukan yoga dan tapa serta mendirikan pura memuja Hyang Widhi di Pura Besakih.

Lewat paiguman itulah Bukit Juru disebut Bukit Gumang. Yang mapaiguman itu adalah para dewa untuk melimpahkan karunianya pada umat yang berusaha memajukan hidupnya, seperti mengembangkan tradisi kehidupan yang agraris. Di Tampaksiring juga ada Pura Gumang yang dilatarbelakangi oleh pertemuan Dewa Indra dengan para dewa untuk menata kehidupan di Bali setelah dapat mengalahkan Maya Denawa.

Dalam mitologi Maya Denawa dinyatakan, di tempat Dewa Indra mapaiguman inilah dibangun Pura Catur Paiguman selanjutnya disebut Pura Gunung di Tampakdiring.

Di Pura Gumang di Bukit Juru Karangasem terdapat beberapa pelinggih utama dan pelengkap. Ada Pelinggih Gedong sebagai stana Ida Batara Gede Gumang yang juga disebut Ida Batara Gede Manik Mas Kecatur. Di kiri-kanan Palinggih Gedong itu agak mundur sedikit terdapat tiga Pelinggih Taksu yang mengapit Pelinggih Gedong. Dua di kiri Gedong dan satu di kanannya. Tiga Pelinggih Taksu tersebut sebagai Pelinggih Taksu Ida Batara Gede Gumang.

Ada Pelinggih Meru Tumpang Tiga sebagai stana Ida Batara Uma saktinya Dewa Siwa. Mengapa Gedong Pelinggih Ida Batara Gede Gumang disebut Ida Batara Gede Manik Mas Kecatur. Hal ini mungkin sebagai bukti bahwa I Dewa Gede itu pemuja Batara Siwa dengan saktinya Sang Catur Dewi.

Dewa Siwa memiliki empat Sakti yaitu Dewi Uma, Dewi Parwati, Dewi Gangga dan Dewi Gauri. Empat Sakti Siwa inilah yang disebut Sang Catur. Dalam kaitannya memuja Tuhan untuk memohon turunnya mata air dan sungai yang mengalir di daerah Bugbug, Jasi, Bebandem, Datah dan Ngis, ada kaitannya dengan cerita turunnya Sungai Gangga dari Sorgaloka dalam cerita Purana di India.

Pendirian pelinggih untuk I Dewa Gede ini tentunya dibuat setelah I Dewa Gede Gumang sudah berbadan niskala dalam statusnya yang sudah menjadi Dewa Pitara. Umumnya roh suci atau Dewan Pitara seorang tokoh dibuatkan pelinggih bukan oleh diri tokoh tersebut, dapat dipastikan dibuat oleh keturunannya atau masyarakat generasi setelah tokoh tersebut sudah berbadan niskala sebagai Dewa Pitara atau Siddha Dewata.

* I Ketut Gobyah

Sabtu, 02 Agustus 2008

Di Balik Sejarah Pura Gumang


Yang Dikehendaki Jadi Pemimpin Bukan Rekayasa
Saat I Dewa Gede datang dari Jawa ke Bali tidak banyak penduduk Bali hirau dengan keberadaan I Dewa Gede. Pada mulanya I Dewa Gede ke Bali bukanlah ingin menjadi tokoh. I Dewa Gede ke Bali bertujuan untuk mencari kehidupan yang tenang dan damai. Ternyata di Bukit Juru itulah I Dewa Gede mendapatkan ketenangan hidup sebagai seorang petani biasa. Lebihnya dengan seorang petani biasa hanya melakukan upaya sekala dan niskala secara seimbang dalam hidupnya sebagai seorang petani yang mohon hidup dari usahanya sebagai petani.

===========================================
Sebagai petani I Dewa Gede tidak semata-mata menanam tumbuh-tumbuhan pangan saja. I Dewa Gede juga mengusahakan menanam pohon-pohonan yang di Bali disebut tanem tuwuh. Fungsi tanem tuwuh itu adalah untuk menguatkan tanah sebagai penyimpan air hujan yang turun sesuai dengan musimnya. Dengan usahanya itu muncullah berbagai mata air bahkan sampai muncul sungai yang dapat mengalirkan air sepanjang tahun ke daerah pertanian penduduk.

Usaha I Dewa Gede di samping mengembangkan tanaman pangan dan tanem tuwuh itu disertai dengan melakukan Yoga Semadi setiap hari dan lebih khusus lagi pada hari-hari subha diwasa. Apa yang dilakukan oleh I Dewa Gede itu sangat yakin tidak ada maksud untuk mencari nama dan agar beliau ditokohkan oleh masyarakat. Apa yang beliau lakukan itu sangat yakin tanpa pamerih.

I Dewa Gede melakukan hal itu karena merasakan bersama masyarakat petani betapa beratnya sebagai petani tanpa ada air yang memadai. Panasnya hidup sebagai petani dengan air yang tidak memadai I Dewa Gede bersama dengan masyarakat yang senasib bekerja dan berdoa mengolah alam dengan penuh kasih sayang dan bakti pada Tuhan.

Usahanya bersama masyarakat petani ini ternyata berhasil. Dari keberhasilannya inilah I Dewa Gede dari Jawa ini mendapatkan simpati masyarakat. Beliau pun dijadikan tokoh oleh masyarakat dengan usahanya sukses melestarikan alam. Di alam yang lestari itulah masyarakat dapat membangun kehidupan yang sejahtera.

Inilah hakikat Indra Brata sebagaimana dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra IX.304 dan juga dinyatakan juga dalam kekawin Ramayana sebagai salah satu unsur Asta Brata. Pemimpin seperti itu adalah pemimpin yang dikehendaki oleh rakyat. Bagaikan air samudera yang menguap karena panasnya matahari. Setelah di angkasa menjadi mendung, terus turun menjadi hujan membuat suburnya tanah dan menjadi sumber kehidupan makhluk hidup di bumi ini.

Demikianlah hakikat Indra Brata yang mestinya dijadikan pegangan dalam kepemimpinan Hindu seperti di Bali ini. Memang seorang pemimpin yang baik bukan yang menghendaki menjadi pemimpin tetapi yang dikehendaki oleh masyarakat luas. Orang yang dikehendaki oleh masyarakat luas.

Orang yang dikehendaki menjadi pemimpin itu bukan dengan merekayasa kehendak rakyat dengan mendadak menaruh belas kasihan pada rakyat serta menghambur-hamburkan uang membantu rakyat. Setelah menjadi pemimpin bergelimangan fasilitas hidup dengan menggunakan uang rakyat.

Dari usaha sekala-niskala I Dewa Gede inilah turunnya karunia Tuhan berupa suburnya daerah Bugbug dan sekitarnya di Karangasem. Inilah yang melatarbelakangi adanya Pura Gumang di Bukit Juru Karangasem. Piodalan di Pura Gumang ini setiap Purnama Sasih Kapat. Penyungsung pura ini ada lima desa yaitu Desa Bubug, Desa Jasi, Desa Bebandem, Desa Datah, dan Desa Ngis.

Masyarakat Bugbug yang tinggal di daerah Buleleng pun merasa bertanggung jawab ikut serta ngempon Pura Gumang ini, karena Desa Bugbug sebagai pengempon ngarep dari Pura Gumang. Desa Bugbug tempat Pura Gumang berada terdiri atas tujuh banjar dengan ratusan kepala keluarga. Tidak semua kepala keluarga mendapatkan sawah garapan. Tetapi bagi yang mendapat sawah dengan dialiri air dari sumber mata air dan sungai di Bugbug itu wajib ngayah ke Pura Gumang atau memiliki kewajiban yang lebih dari kepala keluarga yang lainnya.

Sawah-sawah itu memang hak milik pribadi yang dapat dijual kepada pihak lain. Tetapi siapa pun yang memiliki sawah tersebut selanjutnya wajib ngayah yang lebih ke Pura Gumang. Hal ini mungkin menyangkut Pura Gumang yang diyakini sebagai sumber kesuburan dari sawah-sawah yang ada di sekitar daerah Bugbug.

Setiap upacara piodalan pada Purnamaning Sasih Kapat umumnya ada upacara Nyejer selama dua hari. Umumnya Pura-pura yang lainnya nyejer tiga hari sampai sebelas hari. Nyejer tiga hari ini mengandung makna pendakian spiritual dari Bhur Loka menuju Bhuwah Loka dan yang tertinggi mencapai Swah Loka. Tetapi khusus Pura Gumang upacara nyejer-nya cukup dua hari. Dua hari nyejer ini nampaknya sebagai simbol pemujaan bertemunya Purusa Pradana atau bertemunya Lingga dan Yoni.

Pemujaan Purusa dan Pradana atau Lingga Yoni ini sebagai pemujaan untuk memohon kesuburan pertanian. Karena itu nyejer dua hari itu sebagai pesan spiritual untuk terus konsisten melakukan upaya yang seimbang menjaga kesuburan daerah pertanian. Kata nyejer dalam bahasa Bali artinya terus teguh dan tegak atau konsisten.

Dalam hidup ini memang akan ada saja pasang-surutnya atau suka dukanya. Ada saja kemungkinan hambatan, gangguan dan tantangan. Kalau semuanya itu dihadapi dengan sikap yang nyejer atau teguh dengan konsisten berpegang pada kebenaran dalam melakukan swadharma maka semuanya itu akan menjadi kekuatan tersendiri. Jadinya nyejer itu sebagai pesan spiritual dalam wujud ritual agar umat konsisten pada prinsip-prinsip hidup berdasarkan dharma dalam menghadapi dinamika kehidupan apalagi sebagai petani amat tergantung pada keadaan alam.

Bhagawad Gita II. 15 menyatakan samaduhkhasukham dhiram. Artinya seimbang dan teguhlah menghadapi dinamika suka dan suka. Dalam Subha Sita ada dinyatakan Sukhamdukham Jayate. Artinya, menanglah melawan suka dan duka. Ini artinya kebahagiaan itu adalah berada di atas suka dan duka. Kalau suka sedang menghampiri hidup kita, maka kita pun tidak lupa diri sampai menjadi orang yang sombong egois. Sebaliknya kalau duka yang datang tidak mudah frustrasi dan putus asa menghadapi hidup ini. Jadinya nyejer itu mengingatkan umat untuk bersikap konsisten menghadapi dinamika hidup.

* wiana

Source : balipost

Indahnya Pasir Putih Pantai Bugbug yang Segera Disulap Jadi Lapangan Golf

Radar Bali
[ Senin, 16 Juni 2008 ]
Indahnya Pasir Putih Pantai Bugbug yang Segera Disulap Jadi Lapangan Golf


Status Petani Pohon Asem Bergeser Jadi ''OKB''

Bukan rahasia lagi bagi berkantong tebal ingin menyasar warga miskin. Begitu diiming-imingi uang berlimpah, tentu dengan syarat, sebagian warga oke-oke saja. Reaksi ini pula yang ditunjukkan pemilik lahan untuk lapangan golf di Karangasem.

WAYAN PUTRA, Amlapura

-------------------------------------

MATA terbelalak dan telinga terbuka lebar. Itulah reaksi warga pemilik tanah di seputaran rencana pembangunan lapangan golf di sekitar wilayah Perasi dan Bugbug Karangasem.

Sepertinya mereka ingin mengubah garis kehidupan. Dari petani yang selama inia hidup dengan kayu bekul, santen, dan pohon asem, sekarang ingin membalikkan menjadi orang pemegang duit banyak atau orang kaya baru (OKB).

Reaksi warga sekitar seperti itu, memang, tidak berlebihan. Mereka begitu berharap ada perubahan secara pendapatan dan kehidupan umum masyarakat dua wilayah ini dengan kehadiran investor dari Korea Selatan (Korsel). Investor dari Negeri Gingseng ini ingin menginvestasikan duitnya di golf dan resort. Janji pun diumbar. Sebaliknya warga menyambutnya.

Sebelum mendapatkan kata sepakat ''menerima'' kehadiran proyek dan merelakan tanahnya dijadikan lapangan golf, tentu investor sudah bergerak jauh-jauh hari sebelumnya. Tak terkecuali ''menaklukkan'' si empunya kebijakan. Dalam hal ini Pemkab Karangasem.

Rapinya kerja investor melakukan pendekatan maraton sejak beberapa bulan lalu membuat rencana megaproyek ini berani muncul ke hadapan publik, termasuk lewat media massa. Sehingga bias dibilang semuanya, hingga saat ini, bisa berjalan mulus.

Bendesa Adat Bugbug Jro Wayan Mas Suyasa mengakui adanya proyek ini. Malah dirinya mengaku telah membentuk tim untuk membekap proyek tersebut. Bugrasi (Bugbug dan Perasi). Demikian nama tim yang dibentuk itu. "Sayasendiri kebetulan ditunjuk sebagai ketua tim," ujar Jro Mas. Sementara wakilnya Ir Wayan Reti Adnyana. Hebatnya lagi, Reti terpilih menjadi bendesa Adat Perasia menggantikan Jro Made Wesa. Reti dinilai warganya sukses sebagai negiosiator proyek tersebut. "Ya saya tinggalbeberapa hari lagi. Dalam waktu dekat ini akan menyerahkan jabatan sebagai bendesa adat," aku Wesa.Indikasi ini juga manandakan berapa kuat dukungan masyarakat adat terhadap kelangsungan proyek itu.

Dukungan dari dua desa adat plus pemerintah setempat bukan jaminan proyek berjalan mulus 100 persen. Beberapa hambatan ditemui dalam perjalanan. Itu dibenarkan Jro Mas. Salah satu contoh, belum tuntasnya pembayaran kontrak secara penuh. Selain itu, investor harus mampu meng-take over dari penguasa lahan sebelumnya ke investor anyar ini.

Untuk yang satu ini, menurut Jro Mas Suyasa. sekarang tengah dilakukan negosiasi. Besar kemungkinan negosiasi akan berjalan lancar. Soal nilai kontrak antara tim dan investor telah juga telah disepakati rata-rata Rp 600 juta per hektare selama 30 tahun.

Hanya saja pihak investor akan membagi kawasan tersebut menjadi tiga zona. Masing-masing zona nilai kontraknya berbeda. Besarnya disesuaikan dengan nilai strategis lokasi tanah. Zona A diplot menjadi kelas satu. Pertimbangannya berada di dekat areal pantai yang sekarang berisi kebun kepala.

Zona B berada di atasnya. Pada areal ini nantinya akan dibangun resort dan fasilitas lainnya. Sementara untuk lapangan golf dengan kapasitas 18 hole akan dibangun di antara zona B dan C. Sedangkan zona C sendiri berada di kawasan perbukitan.

Soal keberadaan nelayan di pantai Bugbug, menurut Jro Mas Suyasa sudah ada pembicaraan dengan kelompok nelayan setempat. Di mana nelayan tetap dibiarkan bebas melaut. Hanya saja jumlah perahu dibatasi. "Kalau sebelumnya ada nelayan punya dua jukung, nantinya cukup satu jukung saja standby di sana. Yang satu bisa digeser ke kawasan lain," ujarnya.

Penggeseran jukung nelayan ini nantinya akan ada kompensasi dari investor. Sedangkan soal uang keseriusan Rp 1 miliar yang diberikan kepada Desa Adat Bugbug dan Perasi. Bahkan ada kabar Rp 650 juta sudah diberikan. Rp 400 juta untuk desa adat dan Rp 250 juta untuk pemilik tanah. Kalau dirata-ratakan, pemilik tanah hanya mendapatkan Rp Dengan jumblah itu pemilik tanah baru mendapatkan Rp 5 juta.(*)

Gumang Hill, Bugbug


Monday, October 16th, 2006 by ablteam

Every two years, special ritual happens on fourth full moon (Purnama Kapat, October 7, 2006); One day before full moon, Pilgrims from four villages (Bebandem, Ngis, Bugbug and Jasi) go up to Gumang Hill, where the temple lies on the top. It is about 400 hundred meters high from sea level and four kilometers to the east of Candi Dasa.

Perang Jempana “war of the gods”, Bugbug


Tuesday, October 10th, 2006 by ablteam

This ritual occurs every two years on the full moon on the fourth month (October 7, 2006). The four villages (Bugbug, Ngis, Jasi and Bebandem) participate in a “war of the gods” which is in fact the enactment of an old legend:

The god of Bugbug had three daughters and one son. One of the daughter was to marry the god of Bebandem but she eloped with the god of Jasi. To appease the former, the god of Bugbug gave his second daughter and son to him, and the third daughter was married off to the god of Ngis. The war is to resolve the dispute, and the ritual battle takes place near the temple on the top of Gumang Hill.

SOSIALISASI PEMBEBASAN LAHAN TAMBAK UDANG DI DESA BUGBUG

Tanggal: 03/03/2008 49:00:00

(Humas) - Pertemuan antara pemerintah dengan masyarakat penggarap lahan rencana lokasi tambak udang di desa Bugbug, Kecamatan Karangasem digelar Kamis (28/2/2008) di aula Kantor Bupati Karangasem. Hadir dalam pertemuan tersebut Wakil Ketua DPRD I Wayan Mas Suyasa, SH., Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Ir. I Wayan Artha Dipa, SH., MH., Asisten Administrasi Sekda A.A. Gede Agung Rama Putra, SE., Kadispenda Drs. I Nengah Sudarsa, M.Si., beserta instansi terkait lainnya.

Pertemuan membahas tentang sosialisasi ganti rugi lahan garapan masyarakat di Pasujan, Desa Bugbug yang akan dijadikan tambak udang seluas 3,5 hektar. Hasil pertemuan tersebut disepakati, dari ketujuh belas penggarap lahan negara yang berada di lokasi tambak udang diberi rekomendasi untuk mendapat pengganti lahan pekarangan pada tanah timbul milik negara lainnya yang berdekatan dengan lokasi tambak. Masing-masing penggarap mendapat rekomendasi untuk memperoleh tanah pekarangan dengan rincian : I Wayan Wasih seluas 10 are, I Nyoman Puger seluas 6 are, I Wayan Guna Wijaya : 9 are, I Nyoman Mandra : 14 are, I Nyoman Merta : 6 are, I Ketut Sugita : 4 are, I Wayan Mider : 8 are, I Made Setiaria : 12 are, I Ketut Selat Senang : 4 are, I nengah Landir : 12 are, I Wayan Kari : 7 are, I Ketut Pageh : 5 are, I Ketut Simpen : 5 are, Mangku Nengah Dut : 20 are, I Nengah Royik : 10 are, I Nengah Dibawan : 16 are serta I Ketut Merta 4 are. Lahan yang akan dijadikan tempat relokasi bagi pengarap tersebut seluas 1,5 hektar yang akan ditata dengan konsep LC (land consolidation).

Wakil Ketua DPRD I Wayan Mas Suyasa, SH. yang juga merupakan Bendesa Adat di Desa Pakraman Bugbug meminta kepada Pemerintah khususnya Bupati agar nantinya dalam pemberian rekomendasi penggunaan lahan negara sebagai lahan pekarangan disertai dengan pemberian sertifikat kepada warga tersebut sekaligus biaya pembuatan sertifikat atas tanah pekarangan dimaksud agar dibiayai oleh pemerintah. Sementara itu Asisten Ekonomi dan Pembangunan Ir. I Wayan Artha Dipa, SH., MH. selaku pemimpin rapat memberikan lampu hijau atas usulan dari Mas Suyasa, sudah tentu nantinya hal tersebut akan disulkan dalam anggaran perubahan dan dapat disetujui oleh para wakil rakyat di DPRD. Artha Dipa menambahkan, untuk ganti rugi atas tanaman dan bangunan warga masih menunggu Tim Apuisher (tim independen sebagai tukang taksir) dari pusat yang dilegitimasi oleh Menteri Keuangan, sehingga besaran nilai ganti rugi atas tanaman dan bangunan akan ditentukan kemudian setelah tim penaksir selesai melakukan penaksiran. Dana ganti rugi itu pun akan diusulkan dalam anggaran perubahan 2008.

Perwakilan warga penggarap I Wayan Guna Wijaya menyetujui hasil pertemuan ini, serta sangat mendukung rencana pembangunan tambak udang terbesar di Bali. Apalagi dalam Surat Pernyataan Bupati Karangasem tertuang bahwa diberikan kesempatan pertama bagi warga pengarap dan warga Desa Bugbug untuk menjadi tenaga kerja baik dari mulai proyek pengerjaan tambak maupun sampai beroperasinya tambak tersebut, tentunya agar memenuhi persyaratan yang ditentukan. Warga yang lain pun sangat menerima dan akan mendukung sepenuhnya rencana pembangunan tersebut yang akan mulai dikerjakan pada bulan Agustus 2008. Disamping lahan pekarangan akan ditata dengan baik, sarana seperti jalan, air bersih dan listrik pasti akan ada aksesnya ke lokasi tambak sehingga warga penggarap juga dapat menikmati sarana tersebut sesuai dengan ketentuan.