Rabu, 06 Agustus 2008

Sejarah Letusan Gunung Agung

SEJARAH LETUSAN


Letusan G. Agung yang diketahui sebanyak 4 kali sejak tahun 1800, seperti diperlihatkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Catatan Letusan G. Agung

Tahun letusan

Kegiatan

1808

Dalam tahun ini dilontarkan abu dan batu apung dengan jumlah luar biasa

1821

Terjadi letusan normal, selanjutnya tidak ada keterangan

1843

Letusan didahului oleh gempa bumi. Material yang dimuntahkan yaitu abu, pasir, dan batu apung. Selanjutnya dalam tahun 1908, 1915, dan 1917 di berbagai tempat di dasar kawah dan pematangnya tampak tembusan fumarola.

1963

Letusan dimulai tangga 18 Pebruari 1963 dan berakhir pada tanggal 27 Januari 1964. Letusan bersifat magnatis. Korban tercatat 1.148 orang meninggal dan 296 orang luka.

Karakter Letusan

Pola dan sebaran hasil letusan lampau sebelum tahun 1808, 1821, 1843, dan 1963 menunjukkan tipe letusan yang hampir sama, diantaranya adalah bersifat eksplosif (letusan, dengan melontarkan batuan pijar, pecahan lava, hujan piroklastik dan abu), dan efusif berupa aliran awan panas, dan aliran lava (Sutukno B., 1996).

Periode Letusan

Dari 4 kejadian letusan masa lampau, periode istirahat G. Agung dapat diketahui yakni terpendek 16 tahun dan terpanjang 120 tahun, seperti terlihat pada tabel di bawah.

Periode istirahat G. Agung

Tahun Letusan

Periode Istirahat (tahun)

1805

1821

16

1843

22

1963

120

Letusan 1963

Kronologi Letusan tahun 1963

Lama letusan G. Agung tahun 1963 berlangsung hampir 1 tahun, yaitu dari pertengahan Pebruari 1963 sampai dengan 26 Januari 1964, dengan kronologinya seperti diperlihatkan pada Tabel 5.

Tabel 5. Kronologi letusan tahun 1963

Waktu

Kegiatan

16 Pebruari 1963

Terasa gempa bumi ringan oleh penghuni beberapa Kampung Yekhori (lk. 928 m dari muka laut) di lereng selatan, kira-kira 6 km dari puncak G. Agung.

17 Pebruari 1963

Terasa gempa bumi di Kampung Kubu di pantai timur laut kaki gunung pada jarak lk. 11 km dari lubang kepundannya

18 Pebruari 1963

Kira-kira pukul 23.00 di pantai utara terdengar suara gemuruh dalam tanah

19 Pebruari 1963

Pukul 01.00 terlihat gumpalan asap dan bau gas belerang

Pukul 03.00 terlihat awan yang menghembus dari kepundan,makin hebat bergumpal-gumpal dan dua jam kemudian mulai terdengar dentuman yang nyaring untuk pertama kalinya. Suara yang lama bergema ini kemudian disusul oleh semburan batu sebesar kepalan tangan dan diakhiri oleh sembuaran asap berwarna kelabu kehitam-hitaman .

Sebuah bom dari jauh tampak sebesar buah kelapa terpisah dari yang lainnya dan dilontarkan lewat puncak ke arah Besakih.

Penghuni Desa Sebudi dan Nangka di lereng selatan mulai mengungsi, terutama tidak tahan hawa sekitarnya yang mulai panas dan berbau belerang itu.

Di sekitar Lebih, udara diliputi kabut, sedangabu mulai turun. Air di sungai mulai turun. Air di sungai telah berwarna coklat dan kental membawa batu dengan suara gemuruh, tanda lahar hujan permulaan. Penghuninya tetap tenang dan melakukan persembahyangan.

Pukul 10.00 terdengar lagi suara letusan dan asap makin tebal. Pandangan ke arah gunung terhalang kabut, sedang hujan lumpur mulai turun di sekitar lerengnya.

Di malam hari terlihat gerakan api pada mulut kawah, sedangkan kilat sambung-menyambung di atas puncaknya.

20 Pebruari 1963

Gunung tetap menunjukkan gerakan berapi

06.30 terdengar suara letusan & terlihat lemparan bom lebih besar.

07.30 penduduk Kubu mulai panik, banyak diantara mereka mengungsi ke Tianyar, sedangkan penghuni dari lereng selatan pindah ke Bebandem dan Selat.

21 Pebruari 1963

Asap masih tetap tebal mengepul dari kawah.

Pukul 12.30 tampak leleran lava ke arah Blong di utara

22 Pebruari 1963

Kegiatan terus menerus berupa letusan asap serta loncatan api dan suara gemuruh.

23 Pebruari 1963

Pukul 08.30 sekitar Besakih, Rendang dan Selat dihujani batu kecil serta tajam, pasir serta abu.

24 Pebruari 1963

Hujan lumpur lebat turun di Besakih mengakibatkan beberapa bangunan Eka Dasa Rudra roboh. Penduduk Temukus mengungsi ke Besakih. Awan panas letusan turun lewat Tukad Daya hingga di Blong.

25 Pebruari 1963

Pukul 15.15 awan panas turun di sebelah timurlaut lewat Tukad Barak dan Daya. Lahar hujan di T. Daya menyebabkan hubungan antara Kubu dan Tianyar terputus. Desa Bantas-Siligading dilanda awan panas mengakibatkan 10 orang korban. Lahar hujan melanda 9 buah rumah di Desa Ban , korban 8 orang.

26 Pebruari 1963

Lava di utara tetap meleler. Lahar hujan mengalir hingga di Desa Sogra, Sangkan Kuasa. Asap tampak meningkat dan penduduk Desa Sogra, sangkan Kuasa, Badegdukuh dan Badegtengah mengungsi ke selatan.

Di Lebih hujan yang agak kental dan gatal turun. Lahar terjadi di sekitar Sidemen. Juga lahar mengalir di utara di T. Daya dan T. Barak. Pukul 18.15 hujan pasir di Besakih. Pangi diliputi hawa belerang yang tajam sekali.Penduduknya mengungsi ke Babandem. Kemudian kegiatan G. Agung ini terus menerus berlangsung, boleh dikatakan setiap hari hujan abu turun, sementara sungai mengalirkan lahar dan lava terus meleler ke utara.

17 Maret 1963

Merupakan puncak kegiatan. Tinggi awan letusan mencapai klimaksnya pada pk. 05.32. Pada saat itu tampak awan letusannya menurut pengamatan dari Rendang sudah melewati Zenith dan keadaan ini berlangsung hingga pukul 13.00. Awan panas turun dan masuk ke T. Yehsah, T. Langon, T. Barak dan T. Janga di selatan. Di utara gunung sejak pukul 01.00 suara letusan terdengar rata-rata setiap lima detik sekali. Awan panas turun bergumpal-gumpal menuju T. Sakti, T. Daya dan sungai lainnya di sebelah utara. Mulai pukul 07.40 lahar hujan terjadi mengepulkan asap putih, dan ini berlangsung hingga pukul 08.10.

Pukul 08.00 turun hujan abu, pada pukul 09.20 turun hujan kerikil, dan sementara itu awan panas pun turun bergelombang.

Pada pukul 11.00 hujan abu makin deras hingga penglihatan sama sekali terhalang.

Pada pukul 12.00 lahar yang berasap putih itu mulai meluap dari tepi T. Daya. Baru pukul 12.45 hujan abu reda dan kemudian pukul 15.30 suara letusan pun berkurang untuk selanjutnya hilang sama sekali.

Adapun sungai yang kemasukan awan panas selama puncak kegiatan ini adalah sebanyak lk. 13 buah di lereng selatan dan 7 buah di lereng utara. Jarak terjauh yang dicapainya adalah lk.14 km, ialah di T. daya di utara. Sebelah barat dan timur gunung bebas awan panas.

Lamanya berlangsung paroksisma pertama ini yakni selama lk. 10 jam yakni dari pukul 05.00 hingga pukul 15.00.

21 Maret 1963

Kota Subagan, Karangasem terlanda lahar hujan hingga jatuh korban lk. 140 orang. Setelah letusan dahsyat pada tanggal 17 Maret ini,amka aktivitasnya berkurang, sedang suara gemuruh yang tadinya terus menerus terdengar hilang lenyap. Demikian leleran lava ke utara berhenti pada garis ketinggian 501,64 m dan mencapai jarak lk. 7.290 m dari puncak.

16 Mei 1963

Paroksisma kedua diawali oleh letusan pendahuluan, mula-mula lemah dan lambat laun bertambah kuat. Pada sore hari 16 Mei, kegiatan meningkat lagi terus meneru, hingga mencapai puncaknya pada pukul 17.07. Pada umumnya kekuatan letusan memuncak untuk kedua kali ini tidak sehebat yang pertama. Awan letusannya mencapai tinggi lk. 10.000 m di atas puncak, sedang pada pukul 17.15 hujan lapili mulai turun hingga pukul 21.13. Sungai yang kemasukan awan panas adalah sebanyak 8 buah, 6 di selatan dan 2 di utara. Jarak paling jauh yang dicapai lk. 12 km yakni di Tukad Luah, kaki selatan. Lamanya berlangsung paroksisma lk. 6 jam, yakni dari pukul 16 hingga sekitar pukul 21.00. Pada umumnya kekuatan letusan memuncak untuk kedua kali ini tidak sehebat yang pertama. Awan letusannya mencapai tinggi lk. 10.000 m di atas puncak, sedang pada pukul 17.15 hujan lapili mulai turun hingga pukul 21.13. Sungai yang kemasukan awan panas adalah sebanyak 8 buah, 6 di selatan dan 2 di utara. Jarak paling jauh yang dicapai lk. 12 km yakni di Tukad Luah, kaki selatan. Lamanya berlangsung paroksisma lk. 6 jam, yakni dari pukul 16 hingga sekitar pukul 21.00.

Nopember 1963

Tinggi asap solfatara/fumarola mencapai lk. 500 m di ats puncak. Sejak Nopember warna asap letusan adalah putih.

10 Januari 1964

Tinggi hembusan asap mencapai 1500 m di atas puncak

26 Januari 1964

Pk. 06.50 tampak kepulan asap dari puncak G. Agung berwarna kelabu dan kemudian pada pukul 07.02, 07.05 dan 07.07 tampak lagi letusan berasap hitam tebal serupa kol kembang, susul menyusul dari tiga buah lubang, mula-mula dari sebelah barat lalu sebelah timur mencapai ketinggian maksimal lk. 4.000 m di atas puncak. Seluruh pinggir kawah tampak ditutupi olaeh awan tersebut. Suara lemah tetapi terang terdengar pula.

27 Januari 1964

Kegiatan G. Agung berhenti

Foto 3. Letusan. G. Agung 12 Maret 1963 dilihat dari Karangasem ( K. Kusumadinata, 1963)

Produk Letusan 1963

Lahar Hujan

Sesuai dengan letak geografi dari G. Agung yang bertindak sebagai penangkap hujan angin tenggara yang menghembus, lahar besar dimulai di lereng utara, kemudian di lereng timur menenggara untuk kemudian lambat laun bergeser ke jurusan barat dan mencapai klimaksnya di lereng selatan baratdaya. Lahar besar ke selatan mulai meluas pada ketinggian 500 m antara Rendang dan padangkerta. Kemudian di bawah T. jangga, yakni di T. Krekuk dan Jasi, Bugbug dan akhirnya di T. Unda. Mengingat daerah utara terletak dalam bayangan hujan, laharnya bukan bayangan daripada endapan lepas, yang sebenarnya maksimal jatuh di sebelah sini.

Aliran Lava

Lava yang meleler antara 19 Pebruari dan 17 Maret 1963 mengalir dari kawah utama di puncak ke utara, lewat tepi kawah yang paling rendah, berhenti pada garis ketinggian 505,64 m dan mencapai jarak lk. 7.290 m. Isi lava tersebut ditaksir sebanyak lk. 339,235 juta m3.

Bahan Lepas

Terdiri dari bom gunungapi, lapili, pasir dan abu, baik berasal dari awan panas letusan maupun dari ledakan kawah pusat. Jumlah seluruhnya selama roda kegiatan berlangsung :

Eflata (bom, pasir dan abu) lk. 380,5 . 106 m3

ladu lk. 110,3 . 106 m3

Jumlah lk. 490,8 . 106 m3

Awan Panas G. Agung

Di G. Agung terdapat dua macam awan panas, yakni awan panas letusan dan awan panas guguran. Awan panas letusan terjadi pada waktu ada letusan besar. Pada waktu itu maka bagian bawah dari tiang letusan yang jenuh dengan bahan gunungapi melampaui tepi kawah dan meluncur ke bawah. Bergeraknya melalui bagian yang rendah di tepi kawah, ialah lurah dan selanjutnya mengikuti sungai. Kecepatan dari awan letusan ini menurut pengamatan dari Pos Rendang adalah rata-rata 60 km per jam dan di sebelah selatan mencapai jarak paling jauh 13 km, yakni di T. Luah dan di sebelah utara 14 km di T. Daya.

Menurut Suryo (1964) selanjutnya, awan panas guguran adalah awan panas yang sering meluncur dari bawah puncak (tepi kawah). walaupun tidak ada letusan dapat terjadi awan panas guguran. Dapat pula terjadi apabila terjadi bagian dari aliran lava yang masih panas gugur, seperti terjadi pada waktu lava meleler di lereng utara.

Daerah yang terserang awan panas letusan pada kegiatan 1963 terbatas pada lereng selatan dan utara saja, karena baik di barat maupun di sebelah timur kawah ada sebuah punggung.Kedua punggung ini memanjang dari barat ke timur. Awan panas letusan yang melampaui tepi kawah bagian timur dipecah oleh punggung menjadi dua jurusan ialah timur laut dan tenggara. Demikian awan panas di sebelah barat dipecah oleh punggung barat ke jurusan baratdaya dan utara. Awan panas letusan yang terjadi selama kegiatan 1963 telah melanda tanah seluas lk.70km2 dan menyebabkan jatuh 863 korban manusia.

Korban Kegiatan G.Agung

Menurut Suryo (1965,p.22-26) ada 3 sebab gejala yang menyebabkan jatuh korban selama kegiatan G. Agung dalam 1963, yakni akibat awan panas, piroklastika dan lahar. Data korban manusia diperlihatkan pada Tabel 6.:

Tabel 6. Jumlah korban manusia

Jumlah korban (orang)

meninggal

luka

Awan panas

820

59

Piroklastika

163

201

Lahar

165

36

Jumlah

1.148

296

Kerugian lain

Kerugain lain akibat letusan G. Agung tahun 1963 dirinci seperti terlihat pada Tabel 7 dibawah ini:

Kerugian lain akibat letusan G. Agung tahun 1963

Penyebab

Jenis korban

Awan panas

Lahar

Eflata

54 buah klasiran dan banjar telah menderita kerusakan.

45 kampung terlanda, diantaranya 12 buah musnah, sisanya rusak sebagian

1.963 bush rumah dan gubug terlanda.

75 ha sawah dan 2.201,63 ha ladang terlanda

1.167 ekor ternak dan 10.918 ekor unggas

2.567 ekor ternak

1.382 ekor unggas

21 kampung, 5 diantaranya musnah

4.172 rumah

1359.685 ha sawah dan 870 ha lading

150 ekor ternak

2.617 ekor unggas

1.564 rumah tertimbun, terbakar dan rusak

53.983.00 ha ladang tertimbun

11.745.00 ha hutan rusak

Kehebatan dan Energi

Kusumadinata (1964) telah menghitung energi dan kehebatan letusan G. Agung tahun 1963 dengan hasil sebgaia berikut:

Kehebatan

Volume bahan letusan

Berat jenis

Energi Kalor yang dilepaskan

Kesetaraan bom atom

Kebesaran letusan

: IV (H.Suya, 1955)

: 0,83 km3 (V)

: 2,3 (d)

: 2,189.1025 erg (Eth)

: 2605,9 (Ae)

: 8,99